10h06b1989t's Blog

aliran-aliran dalam pendidikan

Posted on: 02/01/2010

Aliran-Aliran dalam Pendidikan

Dalam dunia pendidikan umum, dijumpai tiga aliran (teori) pendidikan yang mempengaruhi perkembangan seseorang, yaitu nativisme, empirisme, dan konvergensi. Nativisme, yang dipelopori Arthur Schopenhauer (1788-1860) seorang filosof Jerman, berpendapat bahwa manusia dilahirkan telah membawa bakat (hereditas) yang secara cepat atau lambat bakat tersebut akan terwujud. Empirisme, yang dipelopori oleh John Locke (1632-1704) seorang filosof Inggris, berpendapat bahwa manusia dilahirkan sebagai kertas kosong (tabularasa). Faktor lingkungan menentukan dalam perkembangan pribadi seseorang, terutama pendidikan. Sedangkan konvergensi, yang dipelopori oleh William Stern (1871-1938) seorang filosof dan psikolog Jerman, merupakan perpaduan empirisme dan nativisme. Aliran ini berpendapat bahwa kepribadian seseorang dibentuk dan dikembangkan oleh faktor dasar (bakat) dan faktor ajar (pendidikan)

1. Aliran Nativisme

Menurut Zahara Idris(1992:6) nativisme berasal dari bahasa latin nativus berarti terlahir. Seseorang berkembang berdasarkan pada apa yang dibawanya sejak lahir. Adapun inti ajarannya adalah bahwa perkembangan seseorang merupakan produk dari faktor pembawaanyang berupa bakat. Aliran ini dikenal juga dengan aliran pesimistik karena pandangannya yang menyatakan, bahwa orang yang “berbakat tidak baik” akan tetap tidak baik, sehingga tidak perlu dididik untuk menjadi baik, Begitu pula sebaliknya. Namun demikian aliran ini berpendapat bahwa pendidikan sama sekali tidak berpengaruh terhadap perkembangan seseorang, sehingga bila pendidikan yang diberikan tidak sesuai dengan pembawaan seseorang maka tidak akan ada gunanya.

2. Aliran Empirisme

Aliran ini dimotori oleh seorang filosof berkebangsaan inggris yang raionalis bernama John Locke (1632-1704). Aliran ini bertolak dari Lockean tradition yang lebih mengutamakan perkembangan manusia dari sisi empirikyang secara eksternal dapat diamati dan mengabaikan pembawaan

sebagai sisi internal manusia (Umar Tirtarahardja,2000:194). Secara etimologis empirisme berasal dari kata empiri yang berarti pengalaman. Pokok pikiran yang dikemukakan oleh aliran ini menyatakan bahwa pwngalaman adalah sumber pengetahuan, sedangkan pembawaan yang berupa bakat tidak diakuinya.

Menurut aliran empirisme bahwa pada saat manusia dilahirkan sesungguhnya dalam keadaan kosong bagaikan “tabula rasa” yaitu sebuah meja berlapis lilin yang tidak dapat ditulis apapun di atasnya. Sehingga pendidikan memiliki peran yang sangat penting bahkan dapat menentukan keberadaan anak. Pendidikan dikatakan “Maha Kuasa” artinya Pendidikan memiliki kekuasaan dalam menentukan nasib anak. John Locke menganjurkan agar pendidikan disekolah dilaksanakan berdasarkan atas kemampuan rasio dan bukan perasaan. Aliran ini meyakini bahwa dengan memberikan pengalaman melalui didikan tertentu kepada anak, maka akan terwujudlah apa yang diinginkan. Sementara itu pembawaan yang berupa kemampuan dasar yang dibawa seseorang sejak lahir diabaikan sama sekali. Penganut aliran ini masih berkeyakinan bahwa manusia dipandang sebagai makhluk yang dapat dimanipulasi karena keberadaannya yang pasif.

3. Aliran Konvergensi

Aliran ini dipelopori oleh William Stern (1871-1938). Aliran ini semakin dikenal setelah kedua aliran sebelumnya yakni empirisme dan nativisme tidak lagi banyak memiliki pengikut. Inti ajaran konvergensi adalah bahwa bakat, pembawaan dan lingkungan atau pengalamanlah yang menentukan pembentukan pribadi seseorang. Sehubungan dengan hal itu teori. Konvergensi yang dikemukakan William Stern berpendapat bahwa: Pendidikan memiliki kemungkinan untuk dilaksanakan, dalam arti dijadikan penolong kepada anak untuk mengembangkan potensi. Yang membatasi hasil pendidikan anak adalah pembawaan dan lingkungannya. Sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern, aliran konvergensi dipandang lebih realistis, sehingga banyak diikuti oleh para pakar pendidikan.

4. Aliran Naturalisme

Pandangan yang ada persamaannya dengan nativisme adalah aliran naturalisme (Umar Tirtarahardja, 2000:197).Lahirnya aliran ini dipelopori oleh J.J Rousseau, yang mengamati pendidikan. Ditulis dalam bukunya yang berjudul “Emile” menyatakan bahwa anak yang dilahirkan pada dasarnya dalam keadaan baik. Anak menjadi rusak atau tidak baik karena campur tangan manusia (masyarakat). Aliran ini berpendapat bahwa pendidikan hanya memiliki kewajiban memberi kesempatan kepada anak untuk tumbuh dengan sendirinya. Pendidikan sebaiknya diserahkan kepada alam. Oleh karena itu ciri utama aliran ini adalah bahwa dalam mendidik seorang anak hendaknya dikembalikan kepada alam agar penbawaan yang baik tersebut tidak dirusak oleh pendidik.

5. Aliran Pendidikan Islam

    Menurut Jawwad Ridla  ada tiga aliran-aliran utama pemikiran pendidikan Islam, yaitu aliran Agamis- Konservatif, Relgius-Rasional dan Pragmatis-Instrumental.

    Pertama, Aliran Konservatif (Al-Muhafidz), Aliran ini dalam bergumul dengan persoalan pendidikan  cenderung bersikap murni keagamaan, yakni hanya mencakup ilmu-ilmu yang dibutuhkan saat sekarang (hidup di dunia) yang jelas-jelas akan membawa manfaat kelak di akhirat. Penuntut ilmu berkeharusan mengawali belajarnya dengan Kitabullah Al Quran. Ia berusaha menghafal dan mampu menfsirkannya. Ummul Quran, karena itu merupakan induk semua ilmu, lalu dilanjutkan  belajar al Hadis, Ulumul Hadis, Ushul, Nahwu dan Sharaf.

    Aliran kedua, Religius-Rasional (Al-Diniy al-’Aqlaniy), secara ekplisit dan tegas aliran ini mengklaim bahwa berpijak pada perspektif semua ilmu pengetahuan tentang realitas yang ada di dunia ini. Aliran ini mengakui keragaman kebutuhan manusia sebagai implikasinya dan ilmu pengetahuan memang perlu beragam sejalan dengan keragaman kebutuhan tersebut. Kemudian aliran ini juga mengakui bahwa perbaikan kualitas hidup manusia di bumi berada diantara tujuan pendidikan, sehingga dituntut mampu merealisasikan semaksimal mungkin keseimbangan ideal kebutuhan-kebutuhannya. Selanjutnya aliran ni juga menegaskan bahwa kebutuhan manusia dan lingkungan material tidak kalah penting dibanding dengan kebutuhan rohaninya, karena itu jenis-jenis ilmu pengetahuan yang bisa melayani kebutuhan material manusia harus benar-benar diakomodir.

    Kemudian aliran yang ketiga, Pragmatis (Al-Dzara’iy), Aliran ini dilihat dari sudut pandang tujuan pendidikan, lebih banyak bersifat pragmatis dan lebih berorientasi pada aplikatif-praktis.

    Berikan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    Januari 2010
    S S R K J S M
    « Mar   Mar »
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

    Halaman

    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.

    %d blogger menyukai ini: